Thursday, January 12, 2006

"Kantong mayat kami tinggal tiga.....!! " (bag. satu)


Kalimat itu terlontar dari penanggung jawab tim SAR yang saya temui saat berkesempatan menginjakkan kaki di lokasi bencana tanah longsor Jember hari Sabtu lalu. Seperti yang sudah banyak kita lihat di tayangan televisi, bencana alam kembali mewarnai perjalanan awal 2006 ini. Belum usai recovery karena tsunami thn lalu, murkanya alam kembali harus kita hadapi dengan tanah longsor yang melanda beberapa kec. di Jember. Salah satu lokasi kejadian ini ternyata menimpa salah satu perkebunan (afdeling) Keputren yang masuk satu grup dengan kantor saya.

Karena rasa kebersamaan dalam naungan satu grup, akhirnya aksi solidaritas diadakan untuk memberikan bantuan kepada korban perkebunan Keputren tsb. Berita per email dari kantor pusat yang kami terima sblm berangkat menyebut : 7 orang karyawan meninggal, 15 hilang dan ratusan jadi pengungsi karena kehilangan tempat tinggal. Saat Sabtu, 7 Januari lalu kami kesana, korban meninggal sudah menjadi 20 dimana 12 teridentifikasi dan 8 rusak.

Selain melanda perkebunan Keputren yang terletak di kaki Pegunungan Argopuro yang jadi lokasi terparah I ini, tanah longsor juga melanda sejumlah desa lainnya yaitu Kemiri (yang dikunjungi presiden SBY), desa Panti & desa Suci berikut sejumlah dusun yang ada didalamnya. Saat rombongan kami ada di lokasi; tim SAR, kelompok PA (pecinta alam) dan mobil-mobil offroader Raung 4X4 nampak sering melintas di sepanjang lokasi bencana untuk membantu proses evakuasi maupun pencarian korban hilang yang belum ditemukan.

Setelah mendapat info dari kontak person setempat mengenai gambaran lokasi bencana & pengungsian, akhirnya bisa diperoleh kepastian ttg jenis2 barang yg utamanya sangat diperlukan oleh pengungsi. Sumbangan uang yang terkumpul dari karyawan perusahaan akhirnya dibagi dua : untuk belanja keperluan pengungsi dan sisanya akan diberikan dalam bentuk cash. Sabtu 7 Jan kmaren, sepuluh orang dari kantor (termasuk saya) berangkat dengan amanat menyampaikan bantuan.

Perjalanan Pasuruan-Jember memerlukan waktu lebih dari 1 jam di keadaan normal, menjadi 5 jam karena kami harus melewati barikade di pertigaan desa Rambipuji (15 km menjelang perkebunan Durjo tempat penampungan pengungsi dari Keputren). Akibat pengalihan arus dan ditutupnya jalur ke arah daerah bencana, jalur lalulintas mobil2 bantuan yang banyak datang hari itu jadi terhambat. Tidak mudah untuk menembus barikade tersebut meskipun kami telah menempelkan stiker dan juga spanduk di mobil yang berbunyi sumbangan bencana alam tanah longsor Jember sebagai “pass”. Namun setelah kepala satpam kantor yang ikut dalam rombongan berhasil berkoordinasi dengan pihak polisi setempat akhirnya mobil rombongan bisa keluar juga dari kemelut macet yang bikin perut mual.

Setelah sampai di lokasi pengungsian, rupanya kami berbarengan dengan rombongan dari sebuah bank yang datang dengan maksud yang sama untuk memberikan sumbangan. Setelah menemui PIC yang ditugaskan menyambut rombongan, kami langsung menyampaikan maksud kedatangan dan menyerahkan sumbangan sesuai dengan jalur penerimaan yang sudah ada. Keadaan di lokasi pengungsian terlihat cukup padat, walapun para pengungsi tidak harus tidur di tenda namun sekitar 350 orang itu harus rela berbagi space dalam ruang pertemuan perkebunan pusat itu sebagai tempat tinggal mereka untuk sementara.

Sayang sekali tidak banyak waktu yang saya dapatkan untuk sekedar ngobrol dengan beberapa pengungsi, selain adanya kendala bahasa (banyak dari mereka yg hanya bisa bhs. madura) juga karena adanya kesibukan pembagian sumbangan yang cukup menyita waktu. Di hati kecil ada rasa lega manakala diberi kesempatan untuk bertemu dan do something buat mereka yang kena musibah ini. Kembali rasa syukur atas segala nikmat terucap hanya bagi-Mu Ya Allah...

Komparasi gambar Keputren sebelum(atas) dan sesudah musibah (bawah)...a broken landscape. Perhatikan bangunan masjid sbg compare pointnya karena zoom yang berbeda.





bersambung : perjalanan menuju "Groundzero"

5 Comments:

Anonymous lenje said...

Aduh...

Jeng, untunglah para korban ini memperoleh uluran bantuan banyak pihak, termasuk dirimu dan teman2.

Dan untunglah dirimu karena berkesempatan menolong sesama.

Proviciat, jeng!

5:33 AM  
Blogger Apey said...

Elen, iya nih bu..kalo liat musibah begini, kita kudu bersyukur masih jauh lebih beruntung daripada mereka. thx ya :)

11:24 AM  
Blogger isna_nk said...

semoga apa yg Jeng lakukan bisa meringankan beban mereka *ngelus dada.


negeri ini tak henti dirundung bencana

2:51 PM  
Blogger dahlia said...

aduh...pas baca judulnya...glegek
jadi takut sendiri.
penasaran, diterusin bacanya.

klo begini jadi inget dosa hiks.

4:04 PM  
Anonymous Anonymous said...

Wonderful and informative web site. I used information from that site its great. » »

3:45 AM  

Post a Comment

<< Home